Wednesday, 9 July 2014

Senyum dan Penantian

Oleh Ramadhan Anhas

Cinta adalah  perasaan putih, tulus, dan suci yang timbul dari hati terdalam tanpa adanya rasa terpaksa.  Jika seseorang meninggalkanmu, kamu akan tetap setia menunggunya kembali (lagi).
***
Tiba-tiba jantungku berdetak dengan kencang. Seluruh tubuhku mulai kaku tak berdaya seperti layaknya patung Liberty di Amerika. Bibirku bisu. Tak mampu sepatah katapun terucap dari mulut ini. Aku hanya terpaku melihat bola matamu yang indah bagai bintang di malam kelam. Bibir yang kecil kemerahan diam laksana kertas yang tak berkutik jika akan diapikan. Dan tak luput juga pandanganku melihat . . .
***
"Jam berapa Ton?", tanyaku kepada temanku yang bernama Toni.
"Jam 12 Ran, emang ada apa nih?", sahut dia kepadaku.
"Ayo kita makan dulu, udah waktunya makan nih.", ajakku kepadanya.
"Okelah Ran.", jawab dia setuju dan bersemangat.
Langkah demi langkah, kami menuju ke ruangan makan.
***
Randy, itulah namaku. Aku memang sudah lama berteman dengan Toni. Kami mendapatkan beasiswa di sekolah swasta di Bogor.  Sekolah ini memiliki sistem asrama, dimana ini adalah kali pertama kami hidup berasrama yang lepas dari jarak pandang orangtua.
Di kamar 2013, kami selalu terbuka satu sama lain, curhat maksudnya. Tidak ada kata "rahasia" di antara kami. Saat itu, aku bercerita kalau aku sedang kasmaran dengan seseorang.
"Ton, aku lagi suka sama teman sekelasmu nih.", ucapku.
"Siapa? Siapa Ran?", tanya Toni penasaran.
"Ada deh, nanti juga kamu bakal tau sendiri.", candaku kepada Toni.
"Kamu mah, gitu aja ga mau kasih tau. Bilangnya saling terbuka. Sekarang apa? Suka sama seseorang aja ga bilang-bilang lagi. Malah yang buat aku tambah penasaran, kamu sukanya sama teman sekelasku.", Toni sambil merengek seperti ingin diberi tahu.
"Hahaha, bukannya gitu Ton. Aku maunya kamu cari tau sendiri aja. Supaya kamu tidak kaget kalau aku suka sama dia. Dia orangnya manis kok. Pasti kamu tau.", candaku kembali.
"Siapa sih? Bikin tambah penasaran aja nih bocah. Seriusan ih, jangan bercanda mulu. Sekarang aku lagi serius, jangan diajak main-main.", ucap Toni dengan nada kesal.
***
Suatu malam yang indah dibingkai dengan kerlap-kerlip bintang di angkasa raya.
"Sekarang waktunya aku belajar buat ulangan besok. Aku tidak mau jika aku mendapat remedial lagi.", ucapku dalam hati bersungguh-sungguh.
Saat itu aku berjalan menuju perpustakaan sekolah, aku berniat untuk meminjam buku yang kemudian aku bawa dan belajar di kelas sendirian. Sesampai di sana, baru ingin mengambil buku yang mau dipinjam, aku melihat dia sedang belajar sendirian di sudut kanan ruangan ini. Aku ambil dahulu buku yang ingin kupelajari untuk ulangan besok, kemudian aku mulai berjalan ke arahnya. Aku sudah mengenalnya sejak pertama mata kami berjumpa, di sekolah ini.
"Rina?", sapaku dengan lembut.
"Ada apa Ran? Tumben pergi ke perpustakaan, biasanya kamu hanya diam aja di kamar?", tanya dia heran.
"Gapapa Rin, besok ada ulangan Matematika nih. Oh ya, kamu lagi belajar apa?", tanyaku basa-basi.
"Lagi belajar Matematika nih Ran, ayo belajar bersama aja. Sini duduk.", ajak dia dengan senyumnya yang khas.
Aku senang sekali melihat senyumnya dengan hiasan lubang di kedua pipinya.
"Waaah manis sekali.", kagumku dalam hati. Aku takut kalau dia tahu bahwa aku diam-diam mengaguminya melalui tatapanku ini. Langsung saja aku duduk di sampingnya dan mulai bertanya-tanya tentang apa saja yang aku kurang paham, untuk saat itu tentang matematika walaupun sebenarnya aku menyimpan banyak pertanyaan tentang dirinya.
"Ini caranya gimana Rin? Susah banget sih nih soal.", tanyaku dengan agak jengkel karena soal matematika.
"Ini caranya mudah kok Ran, tinggal kamu kalikan aja, kemudian dibagi dua.", jawab Rina dengan santai.
"Waaah, pinter banget nih anak.", bisikku dalam hati sambil tersenyum bangga, kemudian semakin mengagumi keindahannya.
***
Jam klasik yang melingkar di lengan tangan kiri telah menunjukkan pukul sembilan malam, aku pulang ke kamar 2013 tercinta dengan rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Terbang seperti dibawa oleh dinginnya angin malam yang menyejukkan hati hingga sampai ke langit yang dipenuhi oleh cahaya indah bintang dan senyuman manis sang bulan.
"Kamu kenapa Ran? Kok senyum-senyum sendiri?", Toni tampak heran melihat tingkahku.
"Ga ada apa apa kok Ton. Pengen tau banget sih.", balasku.
"Yee, bukannya gitu. Aku takut aja ada sistem sarafmu yang udah rusak.", sindir Toni.
"Ya deh, aku cerita nih.", jawabku dengan terpaksa.
Aku mulai bercerita dengan Toni, tentang malam yang memberiku rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya ini . Aku ragu apakah perlu kubiarkan Toni tahu tentang malaikat manisku yang pintar matematika itu. Namun, Toni memang harus tahu, pikirku.
"Kamu mau janji ga Ton?", tanyaku serius.
"Janji apaan Ran? Yadeh, aku janji nih.", jawabnya serius juga.
"Aku mau jujur nih sama kamu. Aku suka sama Rina, teman sekelasmu. Tadi aja aku belajar bareng sama dia. Pinter banget ya anaknya. Senang banget deh. Tadi juga aku dikasih senyuman sama dia.", ucapku polos.
"Oalah, Rina. Bilang dong Ran dari dulu.  Dia emang orangnya pinter kok, udah cantik, manis lagi. Banyak juga yang mengidolakan dia. Aku kasih saran, sebaiknya kamu bilang aja sama dia.", jawab Toni.
"Bilang apa Ton?", jawabku penasaran.
"Bilang aja kalo kamu mau dekat sama dia. Mau jadi yang 'spesial' dari dia.", ucap Toni dengan mata yang berbinar-binar seolah memberiku harapan untuk benar-benar dekat dengan Rina.
***
Keesokkan harinya, aku berpikiran tentang apa yang dikatakan Toni semalam. Aku berjalan, kemudian merenung dan tak sengaja menabrak Rina.
"Ehh, maaf Rin. Aku ga sengaja. Maaf banget ya.", ucapku berantakkan tanda kegugupanku, dan sebenarnya dicampur dengan usaha untuk tidak membiarkan Rina tahu bahwa hatiku berdegup bahagia karena sentuhannya barusan.
"Santai aja Ran, ga apa-apa kok. Kamu mau kemana nih? Kayaknya lagi 'kepepet' banget nih.", tanya Rina heran.
"A... a... aku mau... Eeeh, kamu lagi sibuk ga Rin? Mau ga ngobrol-ngobrol berdua sama aku?", tanyaku bingung.
"Aku sih sekarang ga ada kerjaan. Boleh juga tuh Ran. Ayo kita cari tempat duduk dulu.", ajak Rina ramah.
Kami berdua pun mencari tempat duduk yang nyaman untuk bersenda gurau berdua. Kemudian kami memilih untuk duduk di suatu tempat. Saat itu, aku benar-benar ingin bicara tentang apa yang seharusnya aku bicarakan dengannya sedari dulu.
"Rin, kamu tau ga arti cinta?", tanyaku lugu.
"Apa? Cinta? Cinta itu rasa kita menyayangi seseorang yang spesial menurut kita. Emang kenapa Ran? Kok nanya yang begituan?", tampak heran dari wajah Rina.
"Kamu pernah ga pacaran? Maaf kalo aku terlalu lancang bilang gitu sama kamu. Aku cuma ingin kamu tau kalo aku suka sama kamu.", tanyaku dengan rasa ketakutan dalam hati, takut jika ia menghindariku atas kejadian ini.
"Pernah sih  Ran, tapi maaf Ran, sekarang aku mau fokus dulu ke sekolah. Aku mau buat hati orangtuaku bangga terhadap segala usahaku sekarang ini.", jawab Rina dengan mata menghadap ke lantai.
"Yadeh, bagus Rin kalo kamu mikirnya gitu. Udah lega nih hati aku udah bilang sama kamu. Terasa ga ada beban lagi nih.", balasku dengan rasa kecewa yang mendalam, namun tetap kupersembahkan senyumku yang paling manis agar kekecewaanku tak terasa olehnya.
"Kamu jangan sedih gitu Ran. Kita ga harus kan pacaran? Lebih baik kita berteman aja. Lagi pula kita kan masih dalam proses menggapai cita-cita kita.", Rina menyemangatiku.
***
Sejak kejadian tersebut, aku dan Rina sekarang menjadi teman yang akrab sekali. Kami mulai banyak berbagi senang dan sedih, belajar bersama, bahkan bercerita hal-hal yang tidak begitu penting.
Meskipun hingga kini tak ada status lebih dari teman yang mengikat kami, aku bersedia untuk tetap menjaganya. Prinsipku, tidak penting apakah orang yang kuinginkan bisa kudapatkan atau tidak, selama rasa ini utuh, dengan sendirinya aku akan menanti. Segalanya hanya butuh waktu untuk menjawabku, termasuk hatinya. Namun benar juga apa yang Rina bilang, dalam usia sesedikit ini aku perlu menata mimpiku terlebih dahulu. Lagipula, ini beasiswa yang bukan dengan mudah kugapai, aku pun tak sampai hati membiarkan kesempatan besar ini melayang begitu saja hanya karena hal yang belum saatnya kuprioritaskan. Aku hanya butuh semangat yang berbeda, kemudian Rina berhasil dengan ikhlas memberikannya padaku. Selayaknya menanti segala mimpi-mimpiku, aku menantinya. Perasaan ini, penantian ini, kubiarkan mengalun indah bersama detik jam yang runtuh di setiap harinya. Hingga pada masanya, senyumnya akan kembali menyambutku tepat seperti apa yang kuharapkan.

No comments:

Post a Comment