Oleh
Ramadhan Anhas
Cinta adalah perasaan putih, tulus,
dan suci yang timbul dari hati terdalam tanpa adanya rasa terpaksa. Jika seseorang meninggalkanmu, kamu akan
tetap setia menunggunya kembali (lagi).
***
Tiba-tiba
jantungku berdetak dengan kencang. Seluruh tubuhku mulai kaku tak berdaya
seperti layaknya patung Liberty di Amerika. Bibirku bisu. Tak mampu sepatah
katapun terucap dari mulut ini. Aku hanya terpaku melihat bola matamu yang
indah bagai bintang di malam kelam. Bibir yang kecil kemerahan diam laksana
kertas yang tak berkutik jika akan diapikan. Dan tak luput juga pandanganku
melihat . . .
***
"Jam berapa Ton?", tanyaku kepada temanku
yang bernama Toni.
"Jam 12 Ran, emang ada apa nih?", sahut dia kepadaku.
"Ayo kita makan dulu, udah waktunya makan
nih.", ajakku
kepadanya.
"Okelah Ran.", jawab dia setuju dan bersemangat.
Langkah demi
langkah, kami menuju ke ruangan makan.
***
Randy, itulah
namaku. Aku memang sudah lama berteman dengan Toni. Kami mendapatkan beasiswa di
sekolah swasta di Bogor. Sekolah ini
memiliki sistem asrama, dimana ini adalah kali pertama kami hidup berasrama yang
lepas dari jarak pandang orangtua.
Di kamar
2013, kami selalu terbuka satu sama lain, curhat maksudnya. Tidak ada kata
"rahasia" di antara kami. Saat itu, aku bercerita kalau aku sedang kasmaran
dengan seseorang.
"Ton, aku lagi suka sama teman sekelasmu nih.", ucapku.
"Siapa? Siapa Ran?", tanya Toni penasaran.
"Ada deh, nanti juga kamu bakal tau
sendiri.",
candaku kepada Toni.
"Kamu mah, gitu aja ga mau kasih tau. Bilangnya
saling terbuka. Sekarang apa? Suka sama seseorang aja ga bilang-bilang lagi.
Malah yang buat aku tambah penasaran, kamu sukanya sama teman sekelasku.", Toni sambil merengek
seperti ingin diberi tahu.
"Hahaha, bukannya gitu Ton. Aku maunya kamu
cari tau sendiri aja. Supaya kamu tidak kaget kalau aku suka sama dia. Dia
orangnya manis kok. Pasti kamu tau.", candaku kembali.
"Siapa sih? Bikin tambah penasaran aja nih
bocah. Seriusan ih, jangan bercanda mulu. Sekarang aku lagi serius, jangan
diajak main-main.", ucap
Toni dengan nada kesal.
***
Suatu malam
yang indah dibingkai dengan kerlap-kerlip bintang di angkasa raya.
"Sekarang waktunya aku belajar buat ulangan
besok. Aku tidak mau jika aku mendapat remedial lagi.", ucapku dalam hati
bersungguh-sungguh.
Saat itu aku
berjalan menuju perpustakaan sekolah, aku berniat untuk meminjam buku yang kemudian
aku bawa dan belajar di kelas sendirian. Sesampai di sana, baru ingin mengambil
buku yang mau dipinjam, aku melihat dia sedang belajar sendirian di sudut kanan
ruangan ini. Aku ambil dahulu buku yang ingin kupelajari untuk ulangan besok, kemudian
aku mulai berjalan ke arahnya. Aku sudah mengenalnya sejak pertama mata kami
berjumpa, di sekolah ini.
"Rina?", sapaku dengan lembut.
"Ada apa Ran? Tumben pergi ke perpustakaan,
biasanya kamu hanya diam aja di kamar?", tanya dia heran.
"Gapapa Rin, besok ada ulangan Matematika nih.
Oh ya, kamu lagi belajar apa?", tanyaku basa-basi.
"Lagi belajar Matematika nih Ran, ayo belajar bersama
aja. Sini duduk.", ajak
dia dengan senyumnya yang khas.
Aku senang
sekali melihat senyumnya dengan hiasan lubang di kedua pipinya.
"Waaah manis sekali.", kagumku dalam hati. Aku
takut kalau dia tahu bahwa aku diam-diam mengaguminya melalui tatapanku ini.
Langsung saja aku duduk di sampingnya dan mulai bertanya-tanya tentang apa saja
yang aku kurang paham, untuk saat itu tentang matematika walaupun sebenarnya
aku menyimpan banyak pertanyaan tentang dirinya.
"Ini caranya gimana Rin? Susah banget sih nih
soal.", tanyaku
dengan agak jengkel karena soal matematika.
"Ini caranya mudah kok Ran, tinggal kamu kalikan
aja, kemudian dibagi dua.", jawab Rina dengan santai.
"Waaah, pinter banget nih anak.", bisikku dalam hati
sambil tersenyum bangga, kemudian semakin mengagumi keindahannya.
***
Jam klasik
yang melingkar di lengan tangan kiri telah menunjukkan pukul sembilan malam,
aku pulang ke kamar 2013 tercinta dengan rasa yang tak pernah aku rasakan
sebelumnya. Terbang seperti dibawa oleh dinginnya angin malam yang menyejukkan
hati hingga sampai ke langit yang dipenuhi oleh cahaya indah bintang dan
senyuman manis sang bulan.
"Kamu kenapa Ran? Kok senyum-senyum sendiri?", Toni tampak heran
melihat tingkahku.
"Ga ada apa apa kok Ton. Pengen tau banget
sih.", balasku.
"Yee, bukannya gitu. Aku takut aja ada sistem
sarafmu yang udah rusak.", sindir Toni.
"Ya deh, aku cerita nih.", jawabku dengan terpaksa.
Aku mulai
bercerita dengan Toni, tentang malam yang memberiku rasa yang tak pernah aku
rasakan sebelumnya ini . Aku ragu apakah perlu kubiarkan Toni tahu tentang
malaikat manisku yang pintar matematika itu. Namun, Toni memang harus tahu,
pikirku.
"Kamu mau janji ga Ton?", tanyaku serius.
"Janji apaan Ran? Yadeh, aku janji nih.", jawabnya serius juga.
"Aku mau jujur nih sama kamu. Aku suka sama
Rina, teman sekelasmu. Tadi aja aku belajar bareng sama dia. Pinter banget ya
anaknya. Senang banget deh. Tadi juga aku dikasih senyuman sama dia.", ucapku polos.
"Oalah, Rina. Bilang dong Ran dari dulu. Dia emang orangnya pinter kok, udah cantik,
manis lagi. Banyak juga yang mengidolakan dia. Aku kasih saran, sebaiknya kamu
bilang aja sama dia.", jawab
Toni.
"Bilang apa Ton?", jawabku penasaran.
"Bilang aja kalo kamu mau dekat sama dia. Mau
jadi yang 'spesial' dari dia.", ucap Toni dengan mata yang berbinar-binar seolah
memberiku harapan untuk benar-benar dekat dengan Rina.
***
Keesokkan
harinya, aku berpikiran tentang apa yang dikatakan Toni semalam. Aku berjalan,
kemudian merenung dan tak sengaja menabrak Rina.
"Ehh, maaf Rin. Aku ga sengaja. Maaf banget ya.",
ucapku
berantakkan tanda kegugupanku, dan sebenarnya dicampur dengan usaha untuk tidak
membiarkan Rina tahu bahwa hatiku berdegup bahagia karena sentuhannya barusan.
"Santai aja Ran, ga apa-apa kok. Kamu mau
kemana nih? Kayaknya lagi 'kepepet' banget nih.", tanya Rina heran.
"A... a... aku mau... Eeeh, kamu lagi sibuk ga
Rin? Mau ga ngobrol-ngobrol berdua sama aku?", tanyaku bingung.
"Aku sih sekarang ga ada kerjaan. Boleh juga
tuh Ran. Ayo kita cari tempat duduk dulu.", ajak Rina ramah.
Kami berdua
pun mencari tempat duduk yang nyaman untuk bersenda gurau berdua. Kemudian kami
memilih untuk duduk di suatu tempat. Saat itu, aku benar-benar ingin bicara
tentang apa yang seharusnya aku bicarakan dengannya sedari dulu.
"Rin, kamu tau ga arti cinta?", tanyaku lugu.
"Apa? Cinta? Cinta itu rasa kita menyayangi
seseorang yang spesial menurut kita. Emang kenapa Ran? Kok nanya yang
begituan?", tampak
heran dari wajah Rina.
"Kamu pernah ga pacaran? Maaf kalo aku terlalu
lancang bilang gitu sama kamu. Aku cuma ingin kamu tau kalo aku suka sama
kamu.",
tanyaku dengan rasa ketakutan dalam hati, takut jika ia menghindariku atas
kejadian ini.
"Pernah sih
Ran, tapi maaf Ran, sekarang aku mau fokus dulu ke sekolah. Aku mau buat
hati orangtuaku bangga terhadap segala usahaku sekarang ini.", jawab Rina dengan mata
menghadap ke lantai.
"Yadeh, bagus Rin kalo kamu mikirnya gitu. Udah
lega nih hati aku udah bilang sama kamu. Terasa ga ada beban lagi nih.", balasku dengan rasa
kecewa yang mendalam, namun tetap kupersembahkan senyumku yang paling manis
agar kekecewaanku tak terasa olehnya.
"Kamu jangan sedih gitu Ran. Kita ga harus kan
pacaran? Lebih baik kita berteman aja. Lagi pula kita kan masih dalam proses
menggapai cita-cita kita.", Rina menyemangatiku.
***
Sejak
kejadian tersebut, aku dan Rina sekarang menjadi teman yang akrab sekali. Kami
mulai banyak berbagi senang dan sedih, belajar bersama, bahkan bercerita
hal-hal yang tidak begitu penting.
Meskipun
hingga kini tak ada status lebih dari teman yang mengikat kami, aku bersedia
untuk tetap menjaganya. Prinsipku, tidak penting apakah orang yang kuinginkan
bisa kudapatkan atau tidak, selama rasa ini utuh, dengan sendirinya aku akan
menanti. Segalanya hanya butuh waktu untuk menjawabku, termasuk hatinya. Namun
benar juga apa yang Rina bilang, dalam usia sesedikit ini aku perlu menata
mimpiku terlebih dahulu. Lagipula, ini beasiswa yang bukan dengan mudah
kugapai, aku pun tak sampai hati membiarkan kesempatan besar ini melayang
begitu saja hanya karena hal yang belum saatnya kuprioritaskan. Aku hanya butuh
semangat yang berbeda, kemudian Rina berhasil dengan ikhlas memberikannya
padaku. Selayaknya menanti segala mimpi-mimpiku, aku menantinya. Perasaan ini,
penantian ini, kubiarkan mengalun indah bersama detik jam yang runtuh di setiap
harinya. Hingga pada masanya, senyumnya akan kembali menyambutku tepat seperti
apa yang kuharapkan.